Wednesday, February 14, 2018

HEART ATTACK (FILM THAILAND)


Saya akan berbagi cerita mengenai salah satu film Thailand yaitu “Heart Attack” mungkin sudah ada yang nonton tapi izinkan saya nak berbagi cerita sedikitlah. Ya, kalau di Indonesia judulnya Heart Attack tapi kalau di Thailand judul asli film ini adalah “Freelancer”. Heart Attack kalau dartikan berdasarkan bahasa artinya serangan jantung tapi nggak tahu deh makna sebenarnya apa. Yaudahlah lanjut, film ini ditayangkan di bioskop pada tahun 2015 (termasuk bioskop Indonesia juga). Sesuai dengan judulnya film ini lebih fokus mengisahkan tentang tokoh utama pria yang bernama Yoon yang diperankan oleh Sunny Suwanmethanont *saya bingung ngejanya suwan-met-hanont atau suwan-methanont* aahh sudahlah. Dikisahkan Yoon ini adalah seorang freelancer yang tak mengenal waktu kerja *pikirannya hanya kerja dan kerja*. Yoon ini memiliki sahabat sekaligus agensi yang selalu memberikan pekerjaan untuknya. Bahkan ketika Je yang diperankan oleh Violette Wautier hendak berhenti dari profesinya Nampak sekali Yoon sangat sedih dan tidak ingin posisi Je digantikan oleh orang lain. Karena bagi Yoon tidak ada Je yang ke-2. *aku ingat nggak punya sahabat dekat* oh mirisnya…

Berdasarkan salah satu sumber yang me-review film ini kenyataannya menurut budaya di Thailand freelancer adalah pekerjaan yang ekstrem, dimana seoarang freelancer tidak boleh sakit, tidak punya waktu istirahat yang banyak boro-boro mau liburan, *kejar target broo*. Berdasarkan kisah nyata tersebutlah sang sutradara (Nawapol Thamrongrattanarit) menggarap film ini.

Udah lanjut, Yoon ini adalah pekrja keras dan bertanggungjawab dengan pekerjaannya sebagai disgner graphis sampai-sampai dia tidak memperhatikan kondisi tubuhnya. Bahkam dia memecahkan rekornya sendiri tidak tidur selama 5 hari. Hingga pada akhirnya dia menyadari tubuhnya terasa gatal-gatal dan ditumbuhi ruam-ruam yang pada akhirnya mengahambat kecepatan dia dalam bekerja. Kemudian dia memutuskan pergi ke dokter dan ketika membayar obat dia terkejut dengan biaya yang begitu mahal hampir 7000 baht *padahal ceritanya dia baru saja mendapat bayaran setara dengan itu* sakit itu mahal broo. Berdasarkan rekomendasi dari internet Yoon pun akhirnya pergi ke Rumah Sakit Umum. Disinilah dia bertemu dengan dr. Imm yang diperankan oleh Davika Hoorne. Jangan berharap adanya kisah cinta yang romantis diantara mereka, karena kamu akan gigit jari.

Pertemuan awal yoon dengan sang dokter memberi kesan yang tak biasa bagi dia, dia mulai merasakan adanya perasaan yang aneh. Dia mau menuruti semua anjuran sang dokter agar bias sembuh, bahkan dia berlibur ke pantai sesuatu yang tak pernah dilakukannya.

Sebenarnya Yoon ini mulai menyukai dr. Imm ini terlihat dari perasaan sedih dan takut dia ketika dia menyadari bahwa dia sudah sembuh itu artinya dia tidak akan bertemu lagi dengan sang dokter *tapi dia tidak bisa mengungkapkannya* aah payah hahaha. Karena sebab itu dia mulai menyibukan diri lagi dengan pekerjaannya dan tidak mengatur pola makannya, hingga timbul gatal-gatal lagi. Dan endingnya dia ke rumah sakit lagi agar bisa bertemu dengan sang dokter. Kan bisa minta nomor kek atau tanya medsosnya kek agar bisa terhubung terus tanpa harus membuat diri menjadi sakit gimana sih lu Yoon-yun *hadeeh*.

Sebagai pecinta film bernuansa romantic ala-ala film Korea awalnya saya berpikir ini adalah film cinta romantis makanya saya bela-bela download di LK21 (ini situs legal atau nggak ya?). Meskipun genre film ini adalah komedi romantis. Namun sayangnya di film ini tak saya temukan cerita romantisnya bahkan sampai filmnya kelar, hanya di ending film ada sedikit adegan manis tapi bukan romantis antara dr. Imm dengan Yoon.

Film ini punya jalan cerita yang tidak bisa ditebak apalagi endingnya itu loh. Meskipun film ini mungkin terkesan kaku dan monoton dan juga sepi *yaelah kayak hati gue, sepi*  but for all *gaya dikit*  bagi saya film ini tidak begitu membosankan untuk ditonton ulang. Saya berharap dengan ending filmnya yang masih gantung ada season ke-2 dari film ini. Smoga.

Tuesday, February 6, 2018

Teruntukmu Duhai Adam

Teruntukmu Duhai Adam


Wahai akhi,
Engkau memang bukanlah orang pertama yang ku miliki rasa seperti ini, sebuah rasa yang menggebu dan mebuatku tersenyum dalam sendiri. Rasa yakin yang begitu kuat bahkan disaat pertemuan kita masih menjadi rahasia.

Wahai akhi,
Terkadang ada rasa yang begitu membuatku takut. Apakah pertemuan kita akan terjadi? Apakah doaku akan segera terwujud? Apakah kita bisa bersama meniti jalan kehidupan ini untuk menggapai ridho-Nya?

Wahai akhi,
Sesungguhnya ada rasa yang bercampur aduk di hatiku. Konflik batin. Ya, ku namai itu konflik batin. Tahukah engkau mengapa ku sebut begitu? Hmm…tentulah tidak. Tapi akan ku ceritakan kepadamu.

Wahai akhi,
Di satu sisi aku memang mengharapkan pertemuan kita, aku mengharapkanmu, ingin bersamamu. Aku selalu bermimpi untuk bisa ada di sampingmu ketika engkau butuh sebuah sandaran atau tepukan untuk menguatkanmu. Namun, disisi lain ada kecamuk di dalam hatiku, perasaan bersalah dengan keyakinan yang aku jalani, yang ku bangun selama ini. Hijrah. Istiqomah. Ya, dua kata yang sedang ku usahakan. Engkau harus tahu betapa beratnya, sulitnya untuk bisa menjalani itu.

Aku takut kehilanganmu, tapi aku juga takut dengan perasaanku itu. Takut jikalau Dia yang menguasai hatiku ini tak menyukai itu. Terkadang aku diselimuti kebingungan harus mengikuti nafsuku atau keyakinanku.

Wahai akhi,
Engkau pun harus tahu betapa berat perasaanku ketika harus merelakanmu dan memasrahkan semuanya pada Dia. Tapi aku sadar aku hanya manusia yang tak punya kuasa terhadap diriku sendiri. Aku ada dalam genggaman-Nya. Aku takut Dia menjauh dariku dan membiarkanku tersesat dalam nafsuku. Aku takut keyakinanku terampas oleh nafsuku.

Wahai akhi,
Akhirnya ku sadari. Sesungguhnya hanya Dia-lah yang mengetahui yang terbaik untuk kita. Jika melepasmu adalah yang terbaik maka itulah yang harus ku lakukan. Jikalau jodoh toh tak akan kemana, begitu kan yang kebanyakan orang katakan?. Aku hanya bisa berusaha, berdoa dan bertawakal. Cukuplah hanya Dia yang mengetahui perasaanku. Cukuplah dengan berdoa kepada-Nya. Harapanku adalah tetap bisa sabar dan ikhlas terhadap ketentuan-Nya. Inilah ikhtiarku untukmu.


Teruntuk seseorang yang masih ku sebut namanya dalam doa.

Monday, January 29, 2018

DEAR MANTAN

Mantan

Tulisan ini saya beri judul mantan. Bukan bermaksud sengaja ingi mengingat mantan, tetapi ingin meluapkan isi hati yang berkecamuk selama beberapa bulan ini. Ya kali aja tiba-tiba dia nyasar ke blog saya hahaha.

Ceritanya, beberapa bulan belakangan mantan saya jadi sering menghubungi saya. Dan ini membuat saya terpikirkan terus. Meski tak selalu saya respon, tak munafik terkadang kembali teringat kenangan bersama dia, tapi juga teringat kejadian terakhir yang membuat hubungan menjadi kandas. Saya pikir, saya masih sensitif dan melankolis.

Pada suatu hari saya bertanya kepadanya, apakah istrinya tahu kalau dia wa saya. Dia mengatakan nggak. Kemudian saya bertanya kembali, apa nggak masalah. Dan dia jawab, masalah gimana. Dan sampai saya menulis ini belum saya balas.

Mungkin menurut dia tidak masalah tapi saya ini wanita yang juga sekaligus mantan. Saya tidak tahu dan tidak mengerti kenapa seorang lelaki menghubungi mantannya lagi setelah waktu yang cukup lama tidak berkomunikasi. Padahal disaat posisi dia sudah menikah dan memiliki anak pula. Ya, mungkin tidak masalah untuknya. Tapi bagaimana jika pada akhirnya sang istri tahu. Masa dia nggak ngecek HP suaminya (memangnya kamu simpan dengan nama apa nomor saya). Ya, syukur-syukur kalau istrinya tidak mempermasalahkan, tidak seperti saya. Tapi sedikit banyaknya pasti ada kecamuk juga di dalam hati.

Tapi meskipun begitu hendaknya suami menjaga perasaan pasangannya. Apa perlu menghubungi mantan hanya untuk sekedar bilang, “pagi”, “siang”, “sore” atau mengirim emoticon-emoticon nggak jelas. Jika hanya sekedar mengucapkan salam atau bertanya kabar, itu masih wajar dan tidak masalah. Sebenarnya bisa saja saya blokir nomornya. Tapi saya berpikir itu membuat saya tidak bisa berdamai dengan masa lalu.

Yang membuat saya masalah dengan hal ini adalah dia sudah menikah dan punya anak sedangkan saya masih sendiri (dan dia tahu itu) lalu maksud lu apa. 

Tuesday, October 24, 2017

Ssssssssttt,,,,,,,Gelar Gue Berubah????????


Yupz, postingan kali ini judulnya Gelar Gue Berubah?????. Dan gue (yaelah sok sok an pake gue luuu nyet) bingung kenapa bisa berubah. Yah, tanggal 23 september kemarin (2017) gue wisuda setelah 6 tahun berjibaku dengan panasnya tanah Dompak. Sebenarnya gue udah lulus tahun 2016 ding, hanya baru bisa mengikuti wisuda gelombang kedua tahun 2017 ini padahal harusnya gue bisa wisuda gelombang pertama  tapi karena ada hal lain yang tak bisa ditoleransi walhasil gue baru bisa gelombang kedua (kata-kata lu muter-muter situ aje pusing gue bacanya).

Gue ikut wisuda penuh dengan rasa malas berbeda dengan orang yang pasti bersuka cita akhirnya lulus dan bisa merayakannya. Gue udah hilang semangat untuk wisuda gara-gara diundur harus nunggu 1 semester ditambah nggak ada pendamping (maksud gue nyokap gue). Gue aja nggak ada kenangan yang banyak waktu prosesi wisuda kemarin, jangankan foto selfie pake toga, foto dengan teman aja kepaksa hanya dapat beberapa foto doang (itupun karena mereka memaksa). Walhasil nggak ada yang bisa gue liat-liat. AAhh bodoh dah, gue juga malu liat muka gue yang kayak topeng dimana bedak gue udah celempang-celempang (lu kagak ngerti celempang artinya belepotan, bertumpuk, tak merata, luntur ya gitulah).

Masya Allah panasnya ruang wisuda itulah yang membuat bedak gue luntur tak berbentuk, ditambah bulu mata gue lepas pula gara-garanya ada temen gue yang iseng narikin penutup muka gue waktu gue tidur-tiduran nunggu giliran naik keatas podium. Bayangkan ada sekitar 650-an orang yang wisuda dan kami urutan terakhir harus menunggu 500-an orang…walhasil gue harus pelan-pelan mengedipkan mata (seperti mengedipkan mata kepada kekasih ahahaha).

Oke cerita wisuda sekian dulu, sekarang kembali ke topik utama. Iya, title gue berubah. Ceritanya gue kan lulus bulan September tahun 2016 nah waktu itu akreditasi prodi gue masih C dan otomatis title gue juga masih Sarjana Sosial (S.Sos.). Dan sebulan kemudian akreditasi prodi gue menjadi B dan otomatis title yang disandang pun bukan Sarjana Sosial (S.Sos.) lagi melainkan sudah berubah menjadi Sarjana Ilmu Pemerintahan (S.I.P.) sebenarnya gue juga bingung penulisannya kayak gimana tapi kampus gue pakenya gitu jadi gue tulis juga gitu.

Akan tetapi gue sempet bingung ketika gua lihat buku dies natalis, tertulis gue lulus bulan April tahun 2017. Dan ada terlintas kalo ngikutin taggal kelulusan yang baru berarti gelar gue bukan S.Sos. lagi tetapi S.I.P. dong ya??. Dan saya bertanya kepada teman-teman dan mereka pada nggak tahu semua mengapa bisa begitu. Akhirnya gue tanya ke staf langsung dan stafnya bilang memang sudah berubah. Gue bingung, kog bisa????? Apakah tidak masalah seperti itu kedepannya???

Ya sudahlah mungkin ini kebijakan kampus, biar mahasiswanya bisa menyandang gelar S.I.P. dan nggak pinjam gelar S.Sos. lagi dari jurusan lain.Saya terima saja dengan lapang dada.

Friday, July 21, 2017

PUASA NADZAR

Puasa nadzar merupakan puasa yang dilaksanakan ketika kita menginginkan atau mengharapkan seuatu kemudian harapan tersebut terakabul. Maka ia wajib untuk membayar nadzar tersebut. Jika ia tidak mampu untuk membayar nadzar tersebut maka ia dikenai denda atau kaffarat. Pada dasarnya hukum puasa bernadzar adalah mubah atau boleh. Asalkan nadzar yang telah diucapkan harus dilaksanakan atau dipenuhi karena ia termasuk janji (yang menjadi hutang) kepada Allah SWT.

Allah Ta’ala berfirman,
“Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah: 270)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
Barangsiapa yang bernazar untuk taat pada Allah, maka penuhilah nazar tersebut. Barangsiapa yang bernazar untuk bermaksiat pada Allah, maka janganlah memaksiati-Nya. ” (HR. Bukhari no. 6696)


Macam-macam puasa nadzar :
1. Puasa Nadzar Nafsi
Artinya melakukan puasa yang berkaitan dengan pribadi masing-masing orang. Puasa ini tidak untuk berjamaah, dan nadzar nafsi dilaksanakan apabila menginginkan sesuatu atau ber-nadzar. 
2. Puasa Nadzar Ahli
Artinya melakukan suatu puasa nadzar yang bekaitan dengan orang lain maksudnya bukan untuk dirinya sendiri. Misalnya: ada seseorang yang kita nadzarkan, dan dengan nadzar kita orang itu dari perbuatan yang tidak baik menjadi baik.
3.  Puasa Nadzar Juriat
Artinya melakukan sesuatu nadzar kepada tempat ibadah. Yang dimaksud tempat ibadah di sini ialah tempat-tempat yang suci seperti:
a.       Bernadzar ke Baitullah
b.      Bernadzar ke Masjid Nabawi
c.       Bernadzar ke Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsha

Adapun denda/sanksi/kafarat bagi yang tidak mampu/sanggup melakukan puasa nadzar adalah seperti dibawah ini. Ia boleh memilih salah satu dari ketiga kaffarat dibawah ini.:

1. Membebaskan budak/hamba sahaya, namun untuk saat ini tidak ada budak, sehingga untuk menerapkan   kaffarat tersebut bisa dibilang sulit atau tidak bisa.
2. Memberi makan sepuluh fakir miskin, atau memberi pakaian mereka, seseuai dengan kadar makanan atau pakaian yang biasa ia berikan kepada keluarganya.
3. Berpuasa selama tiga hari dan tidak harus berturut-turut.


sumber: 
https://muslim.or.id
http://wajoo.blogspot.co.id



Wednesday, July 12, 2017

Sumber Keuangan Desa

Berdasarkan Undang-undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa 71 ayat 1 sumber pendapatan desa berasal dari:
  1.  pendapatan asli Desa terdiri atas hasil usaha, hasil aset, swadaya dan partisipasi, gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli Desa;
  2. alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
  3. bagian dari hasil pajak daerah dan retribusi daerah Kabupaten/Kota;alokasi dana Desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan yang diterima Kabupaten/Kota;
  4. bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi dan Anggaran
  5. Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota;
  6.  hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga; dan
  7. lain-lain pendapatan Desa yang sah.

Rasa Kecewa Yang Mendalam Karena "PESANTREN IMPIAN"

PESANTREN IMPIAN

Entah bagaimana cara mengungkapkan rasa kecewa ini (aah lebay)....
Ia tapi saya benar-benar kecewa, kecewa yang teramat sangat dengan apa yang saya saksikan. Padahal sebelum itu sangat antusias saya ingin menyaksikan film yang sudah saya tunggu-tunggu jauh sebelum ada info bahwa novel yang sangat bagus tersebut akan difilmkan. Aaaaah tetapi sungguh saya kecewa (entahlah Mbak Asma Nadia apakah sekecewa saya atau entahlah apakah ada orang lain yang juga sekecewa saya) ketika menyaksikan film dengan novel jauh berbeda.

Flashback,,,,

Melihat ke belakang, saya membaca novel ini ketika saya masih duduk di kelas 2 bangku  SMP. Tapi waktu itu bukan berbentuk novel melainkan cerita berseri di sebuah majalah remaja islami (Majalah ANNIDA #ada yang tahu?????). Ya kalau banyak yang nggak tahu saya juga maklum, karena susah banget nyarinya jaman sekarang. Ketika itu saya membaca (pesantren impian) pun nggak dari awal cerita dan nggak sampai tamat juga. Saya ingat saya membaca hanya beberapa serinya saja, setelah itu berhenti karena tak saya jumpai majalahnya lagi. Sejak itu saya selalu terbayang-bayang (kayak terbayang sama mantan) apa ending dari cerita tersebut..sampai ketika saya kuliah saya cari novel pesantren impian tersebut di perpustakaan dan tempat peminjaman buku, kagak ketemu mak (giiilaaak misterius banget kayak ceritanya).

Baru di tahun 2015 akhirnya ku menmukanmu (nyanyi ding). Ia pada akhirnya penantian panjang setelah sekian lama mencari-cari, novel tersebut saya temukan di facebook (ooooowhh facebook sungguh engkau berjasa karena telah mempertemukan kami).Singkat cerita akhirnya saya mencoba memesan novel tersebut bersama dengan novel yang lainnya (Surga yang Tak Dirindukan dan Cinta Di Ujung Sajadah).

Setelah beberapa hari sampai juga novel yang ditunggu-tunggu, langsung tak sikat (#baca). Tidak butuh waktu yang lama untuk membaca novel tersebut. Cukup 1 hari setengah kelar (seketika ingat malas baca buku pelajaran dan ngaji huhuhuhu). Akhirnya rasa penasaran terhadap ending novel tersebut terobati sudah walaupun masih bertanya-tanya siapakah si gadis sebenarnya (yang pernah baca novel ini pasti paham apa yang saya oceh susahnya menebak-nebak siapakah si gadis, Inong kah???).

Disini saya bukan untuk meresume novel ataupun meriview "PESANTREN IMPIAN", tetapi saya hanya menuliskan kekecewaan saya antara novel dengan film.

Sungguh saya kecewa, tak seperti bayangan saya. Sungguh saya kecewwa (entah berapa kali saya harus katakan). Sungguh saya kecewa. Baca novelnya dan tontonlah filmnya agar kalian bisa mengerti apa yang saya rasakan, karena teman saya juga kecewa setelah itu.

Sebenarnya tak dipungkiri setiap novel yang difilmkan pastilah akan ada perubahan-perubahan.  Entah itu dari ceritanya, bahasanya, ataupun karakter tokohnya. Tapi sayangnya di film ini terlalu jauh perubahannya sehingga inti dari novel pun tidak tersampaikan.

Di filmn ceritanya malah jadi kayak horor gitu, ada tokoh-tokoh yang tidak ada di novel, karakter-karakter orangnya juga berbeda. Jika saya tidak pernah membaca novel “Pesantren Impian” sebelumnya mungkin saya akan mengatakan film ini bagus. Tapi sayangnya saya sudah membaca novel ini jauh sebelum menonton filmnya. Sehingga ketika menyaksikan filmnya yang tidak sesuai ekspetasi saya, saya menjadi kecewa. Kog jadi gini ya jalan cerita di filmnya, kog beda banget ya dengan di novel?. Huuuhhh pokoknya saya kecewa. Sehingga saya pun berpesan kepada saya, bahwa jangan pernah berharap pada sesuatu secara berlebihan. Jangan berharap bahwa sesuatu itu akan sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Karena kecewa yang akan kamu temui. Hahaha


udahlah segitu aja menggambarkan kekecewaan saya...

Pada Intinya : COBA BACA NOVELNYA DULUAN BARU NONTON FILMNYA...






Postingan Terakhir

PENGALAMAN TES CPNS KPU TA 2018